Showing posts with label Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Show all posts
Showing posts with label Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Show all posts

Friday, September 23, 2022

Peningkatan Keterampilan Teknik Dan Hasil Belajar Senam Lantai Gerakan Guling Depan Menggunakan Media Bola Pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal

 

Peningkatan Keterampilan Teknik Dan Hasil Belajar Senam Lantai Gerakan Guling Depan Menggunakan Media Bola Pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal Peningkatan Keterampilan Teknik Dan Hasil Belajar Senam Lantai Gerakan Guling Depan Menggunakan Media Bola Pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal 

BAB 1 PENDAHULUAN 

 A. Latar Belakang masalah 

Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang di ajarkan di sekolah memiliki peranan yang sangat penting yaitu memberikan kesempatan belajar kepada siswa untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis. Pendidikan mempunyai sasaran paedagogis, oleh karena itu kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah perkembangan zaman. 

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan merupakan materi pelajaran yang sangat penting diajarkan di sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan sebagai media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, ketrampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap mental, emosional, sportifitas, spiritual, sosial) serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. 

Banyak persoalan dalam belajar pendidikan jasmani yang sering kita jumpai seperti siswa sulit menghadapi materi yang disampaikan oleh guru, siswa tidak menyenangi mata pelajaran tertentu, pelajaran yang disampaikan menjenuhkan, sukar dipahami, dan kurang menarik. Kesulitan belajar dalam pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan pada umumnya terletak pada karakteristik gerakan yang dipelajari. Makin komplek suatu gerakan, makin sukar untuk dipelajari dan makin banyak siswa tidak menguasainya. Makin sukar gerakan atau keterampilan gerak yang dipelajari, makin diperlukan model belajar yang cukup efektif. Metode pembelajaran atau model pembelajaran yang baik apabila dapat diterapkan dalam situasi belajar mengajar yang menyenangkan, dapat dipahami, dan mudah dilaksanakan oleh siswa, untuk tujuan yang telah ditetapkan. Penerapan metode pembelajaran yang efektif dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: tujuan yang akan dicapai, kemampuan guru dalam menggunakan metode tersebut, kemampuan siswa, besarnya kelompok yang akan diajar, waktu, dan fasilitas yang tersedia. 

Dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, masih banyak guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang menggunakan model pembelajaran yang sudah tua yaitu metode bagian atau “part method”. Dalam mengajarkan keterampilan gerak model ini disebut metode tradisional. Sedangkan model-model baru yang didasari oleh teori baru dan penelitian empiris masih kurang dipergunakan. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap hasil pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di sekolah. 

Seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan tidak hanya dapat melakukan pengajaran yang bersifat konvensional di kelas yang berupa kajian teori semata tetapi dituntut dapat mengajarkan berbagai ketrampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan olahraga yang melibatkan unsur fisik, mental, intelektual, emosional dan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan perlu menerapkan metode pembelajaran yang tepat dan dipahami oleh siswa dalam suasana belajar yang menyenangkan. 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan meliputi : Pemainan dan olahraga, Atletik, bela diri, kebugaran jasmani, uji diri/senam, senam irama, renang, pendidikan luar kelas, dan budaya hidup sehat. Semua materi itu diaplikasikan ke dalam Standar Kompetensi maupun Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh semua siswa. 

Senam lantai merupakan salah satu Standar Kompetensi mapel Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan terdiri dari beberapa kompetensi dasar seperti : guling depan (forward roll), guling belakang (back roll), lenting tengkuk (neck kip), meroda, sikap lilin, dan sebagainya. Untuk dapat melakukan geraka-gerakan dalam senam lantai diperlukan kekuatan, kelenturan, kecepatan, ketepatan, dan yang tidak kalah penting adalah keberanian untuk melakukannya. Gerakan dalam senam lantai cenderung sulit dilakukan dan menimbulkan ketidaknyamanan atau rasa sakit, hal ini menjadikan senam lantai kurang diminati oleh siswa. Olahraga senam lantai, khususnya guling depan memerlukan keberanian dan teknik yang benar agar siswa dapat melakukannya dengan baik dan benar tanpa mengalami cidera. 

Ketercapaian keterampilan teknik dan hasil belajar senam lantai gerakan guling depan kelas VII-A di SMP Negeri 2 Tarub Tahun Pelajaran 2015-2016 masih rendah, hasil pengamatan dan tes praktek, sebelum penelitian tindakan kelas didapatkan data sebagai berikut: Jumlah siswa 32 anak, yang melakukan sikap awal guling depan dengan baik dan benar 16 anak (50%), yang dapat melakukan gerakan mengguling dengan baik dan benar 14 anak (43%), sedangkan siswa yang dapat melakukan sikap akhir gerakan guling depan dengan baik dan benar 12 anak (33%), siswa yang tuntas belajar 14 anak (43%), siswa yang tidak tuntas belajar 18 anak (56,25 %), daya serap klasikal tercapai 43%. Ketentuan seorang siswa disebut tuntas belajar (tercapai KKM) bila telah mencapai skor 75, sedangkan suatu kelas disebut tuntas belajar bila di kelas sekurang-kurangnya terdapat 85% siswa yang telah tuntas belajar (tercapai KKM). 

Berdasarkan pada pengamatan dan analisis peneliti, yang juga sebagai guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan saat mengajar, materi senam lantai gerakan guling depan, diketahui bahwa kesulitan yang dialami siswa dalam melakukan gerakan senam lantai gerakan guling depan, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian yaitu: sikap awal (posisi kaki, meletakan kedua tangan pada matras, penempatan bagian belakang kepala/tengkuk), gerakan mengguling ( sikap dan bentuk tubuh saat berguling), sikap akhir (posisi kaki, bentuk tubuh, sikap tangan, dan pandangan mata), ditambah faktor non teknis yaitu kekhawatiran dan rasa takut untuk melakukan gerakan guling depan. 

Pembelajaran senam lantai selama ini menggunakan metode ceramah dan penugasan, penggunaan media dan alat bantu pembelajaran belum digunakan secara optimal, siswa dihadapkan pada situasi belajar mengajar yang sama dan berulang-ulang sehingga proses belajar mengajar menjadi monoton, ini dapat menimbulkan rasa bosan bagi siswa dan guru itu sendiri. 

Untuk mengatasi hal tersebut di atas, peneliti memandang perlu menerapkan metode pembelajaran yang lebih bervariasi, kreatif, dan inovatif. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat jika metode tersebut sesuai dengan karakteristik siswa, memenuhi kebutuhan siswa, dan sesuai kemampuan guru. serta memotivasi siswa berani melakukannya dan dengan teknik yang benar. 

Bola merupakan alat pembelajaran yang sangat digemari oleh siswa, penggunakan bola sebagai media bantu dalam pembelajaran senam lantai gerakan guling depan diharapkan akan menimbulkan suasana yang menyenangkan dan mengurangi rasa takut untuk melakukan gerakan senam lantai gerakan guling depan. Penggunaan bola dalam pembelajaran ketrampilan teknik senam lantai gerakan guling depan yaitu dengan meletakan bola di antara dua kaki, dan sebagai batas penempatan kepala bagian depan (dahi). Penempatan bola di antara dua kaki dengan tujuan memperlebar jarak kaki, dan sebagai control pada saat melakukan berguling agar kedua kaki tetap dalam posisi sejajar, media bola sebagai alat bantu tersebut juga dapat digunakan sebagai batas penempatan kepala bagian depan sehingga kepala tidak terlalu jauh dari kaki dengan demikian akan mempermudah pelaksanaan gerakan guling depan. 

Tertarik dengan permasalahan di atas akan dikaji lewat Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “Peningkatan Keterampilan Teknik Dan Hasil Belajar Senam Lantai Gerakan Guling Depan Menggunakan Media Bola Pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal” 

B. Identifikasi Masalah 

Proses pembelajaran senam lantai pada siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub mengalami berbagai permasalahan yang dapat di identifikasikan sebagai berikut: 

1. Kurangnya motivasi siswa dalam melakukan senam lantai karena gerakan dalam senam lantai sulit dilakukan dan dapat menimbulkan rasa sakit. 

2. Siswa tidak memahami tujuan pembelajaran senam lantai gerakan guling depan. 

3. Siswa tidak memahami manfaat mempelajari senam lantai gerakan guling depan. 

4. Kedisiplinan siswa yang masih kurang dalam melakukan teknik dan gerakan guling depan sesuai yang diinstruksikan oleh guru. 

5. Penerapan metode belajar dan media bantu pembelajaran yang tidak tepat dapat menimbulkan suasana belajar yang tidak menyenangkan. 

6. Rendahnya kemampuan siswa dalam melakukan keterampilan teknik senam lantai gerakan guling depan. 

7. Rendahnya hasil belajar senam lantai gerakan guling depan pada siswa kelas VII. 

C. Batasan Masalah 

Berdasarkan identifikasi masalah dan agar penelitian menjadi lebih terfokus serta efektif, maka pada penelitian ini akan dibatasi masalah-masalah yang terjadi pada pembelajaran senam lantai gerakan guling depan pada siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub sebagai berikut: 

1. Rendahnya kemampuan siswa dalam melakukan keterampilan teknik senam lantai gerakan guling depan. 

2. Rendahnya hasil belajar senam lantai gerakan guling depan. 

3. Penerapan metode belajar menggunakan media bola dalam pembelajaran keterampilan teknik dan hasil belajar senam lantai gerakan guling depan. 

D. Rumusan Masalah 

Berdasarkan identifikaasi masalah dan pembatasa masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah yang dapat diteliti yaitu: 

1. Apakah penggunaan media bola dapat meningkatkan keterampilan teknik senam lantai gerakan guling depan pada siswa kelas VII-A semester genap SMP Negeri 2 Tarub? 

2. Apakah penggunaan media bola dapat meningkatkan hasil belajar senam lantai gerakan guling depan pada siswa kelas VII-A semester genap SMP Negeri 2 Tarub? 

E. Tujuan Penelitian. 

a. Untuk mengetahui peningkatan keterampilan teknik senam lantai gerakan guling depan menggunakan media bola pada siswa kelas VII-A semester genap SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2015-2016. 

b. Meningkatkan hasil belajar senanm lantai gerakan guling depan mengguakan media bola pada siswa kelas VII-A semester genap SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2015-2016. 

 F. Manfaat Penelitian 

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi semua pihak yang terkait yaitu: 

1. Bagi siswa, dengan model dan penggunaan alat bantu pembelajaran lebih bervariasi, dan mereka dapat termotivasi untuk belajar dengan mudah, aman, dan dalam suasana yang menyenangkan. 

2. Bagi guru Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan, untuk meningkatkan kualitas mengajar dengan menerapkan metode mengajar yang bervariasi dan inovatif agar pembelajaran lebih bermakna dan berhasil secara optimal. 

3. Bagi sekolah, semoga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai perbendaharaan metode dan model pembelajaran. 

Demikian Penelitian tindakan Kelas dengan judul Peningkata Keterampilan Dan Hasil Belajar Senam Lantai Gerakan Guling Depan Menggunakan Media Bola Pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub yang dapat admin Share Semoga bermanfaat. jika ada pertanyaan silahkan sampaikan pada kolom komentar yang tersedia. terima kasih

Monday, October 9, 2017

PTK Peningkatan keterampilan Teknik dan Hasil Belajar Senam Lantai Gerakan Guling Depan Menggunakan Media Bola Pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal

Assalamualaikum Warohmatullah Wabarrakatuh
Salam Olahraga

Puji syukur penuis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis (admin Blog Guru Penjasorkes dapat menyelesaikan penulisan hasil penelitian dengan judul " Peningkatan Keterampilan Teknik dan Hasil belajar Senam Lantai Gerakan Guling Depan Menggunakan Media Bola Pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal".

Sebagai ungkapan rasa syukur tesebut penulis akan berbagi hasil penelitian dengan sobat blogger. Hasil penelitian PTK ini akan penulis bagi secara utuh dari Bab I sampai Bab V, namun karena keterbatasan waktu pada kesempatan kali ini Bab 1 yaitu pendahuluan. untuk Bab II, Bab III, Bab IV, dan Bab V akan penulis share pada postingan selanjutnya. Langsung saja simak berikut ini:

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

       Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, Pendidikan Jasmnai Olahraga dan Kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan yang sangat penting yaitu memberikan kesempatan belajar kepada siswa untuk terlibat langsug dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis. Pendidikan mempunyai sasaran paedagogis, oleh karena itu kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah perkembangan zaman.

            Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan materi pelajaran yang sangat penting diajarkan di sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan sebagai media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayata nilai-nilai (sikap mental, emosional, sportifitas, dan sosial) serta pembiasan pola hidup sehat yang b pertumbuhan dan perkembangan kualitaangermuara untuk merangss fisik dan psikis yang seimbang.

           Banyak persoalan dalam belajar pendidikan jasmani yang sering kita jumpai seperti siswa sulit menghadapi materi yang disampaikan guru, siswa tidak menyenangi materi tertentu, pelajaran yang disampaikan menjenuhkan, sukar dipahami, dan kurang menarik. Kesulitan belajar pada Pendidikan jasmani Olahraga dan Kesehatan umumnya pada terletak pada karakteristik geraka yang dipelajari. Makin komplek suatu gerakan, makin sukar untuk dipelajari dan makin banyak siswa tidak menguasainya.  Makin sukar gerakan atau keterampilan gerak yang dipelajari, diperlukan model belajar yang effektif. Metode pembelajaran atau model pembelajaran yang baik apabila dapat diterapkan dalam situasi belajar mengajar yang menyenangkan, dapat dipahami, dan mudah dilaksanakan oleh siswa untuk tujuan yang telah ditetapkan. Peneratpan model pembelajaran yang effektif dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: tujuan yang akan dicapai, kemampuan guru dalam menggunakan metode tersebut, kemampuan siswa, besarnya kelompok yang akan diajar, waktu dan fasitias yang tersedia.

            Dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, masih banyak guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang menggunakan model pembelajaran yang sudah tua yaitu metode bagian atau “part method”. Dalam mengajarkan keterampilan gerak model ini disebut  metode tradisional. Sedangkan model-model baru yang didasari oleh teori baru dan penelitian empiris masih kurang dipergunakan. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap hasil pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di sekolah. 

        Seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan tidak hanya dapat melakukan pengajaran yang bersifat konvensional di kelas yang berupa kajian teori semata tetapi dituntut dapat mengajarkan berbagai ketrampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan olahraga yang melibatkan unsur fisik, mental, intelektual, emosional dan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan perlu menerapkan metode pembelajaran yang tepat dan dipahami oleh  siswa dalam suasana belajar yang menyenangkan. 
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan meliputi : Pemainan dan olahraga, Atletik, bela diri, kebugaran jasmani, uji diri/senam, senam irama, renang, pendidikan luar kelas, dan budaya hidup sehat. Semua materi itu diaplikasikan ke dalam Standar Kompetensi maupun Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh semua siswa.
Senam lantai merupakan salah satu Standar Kompetensi mapel Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan  terdiri dari beberapa kompetensi dasar seperti : guling depan (forward roll), guling belakang (back roll), lenting tengkuk (neck kip), meroda, sikap lilin, dan sebagainya. Untuk dapat melakukan geraka-gerakan dalam senam lantai diperlukan kekuatan, kelenturan, kecepatan, ketepatan, dan yang tidak kalah penting adalah keberanian untuk melakukannya. Gerakan dalam senam lantai cenderung sulit dilakukan dan menimbulkan ketidaknyamanan atau rasa sakit, hal ini menjadikan senam lantai kurang diminati oleh siswa. Olahraga senam lantai, khususnya guling depan  memerlukan keberanian dan teknik yang benar agar siswa dapat melakukannya dengan baik dan benar  tanpa mengalami cidera.
Ketercapaian keterampilan teknik dan hasil belajar senam lantai gerakan guling depan kelas VII-A di SMP Negeri 2 Tarub Tahun Pelajaran 2015-2016   masih rendah, hasil pengamatan dan tes praktek, sebelum penelitian tindakan kelas didapatkan data sebagai berikut: Jumlah siswa 32 anak, yang melakukan sikap awal guling depan dengan baik dan benar 16 anak (50%), yang dapat melakukan gerakan mengguling dengan baik dan benar 14 anak (43%), sedangkan siswa yang dapat melakukan sikap akhir gerakan guling depan dengan baik dan benar 12 anak (33%), siswa yang tuntas belajar 14 anak (43%), siswa yang tidak tuntas belajar 18 anak (56,25 %), daya serap klasikal tercapai 43%. Ketentuan seorang siswa disebut tuntas belajar (tercapai KKM) bila telah mencapai skor 75, sedangkan suatu kelas disebut tuntas belajar bila di kelas sekurang-kurangnya terdapat 85% siswa yang telah tuntas belajar (tercapai KKM).
Berdasarkan pada pengamatan dan analisis peneliti, yang juga sebagai guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan saat mengajar,  materi senam lantai gerakan guling depan,  diketahui bahwa kesulitan yang dialami siswa dalam melakukan gerakan senam lantai gerakan guling depan, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian yaitu: sikap awal (posisi kaki, meletakan kedua tangan pada matras, penempatan bagian belakang kepala/tengkuk), gerakan mengguling ( sikap dan bentuk tubuh saat berguling), sikap akhir (posisi kaki, bentuk tubuh, sikap tangan, dan pandangan mata), ditambah  faktor non teknis yaitu kekhawatiran dan rasa takut untuk melakukan gerakan guling depan.
Pembelajaran senam lantai selama ini menggunakan metode ceramah dan penugasan, penggunaan media dan alat bantu pembelajaran belum digunakan secara optimal, siswa dihadapkan pada situasi belajar mengajar yang sama dan berulang-ulang sehingga proses belajar mengajar menjadi monoton, ini dapat menimbulkan rasa bosan bagi siswa dan guru itu sendiri.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas, peneliti memandang perlu menerapkan metode pembelajaran yang lebih bervariasi, kreatif, dan inovatif. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat jika metode tersebut sesuai dengan karakteristik siswa, memenuhi kebutuhan siswa, dan sesuai kemampuan guru. serta memotivasi siswa berani melakukannya dan dengan teknik yang benar.
Bola merupakan alat pembelajaran yang sangat digemari oleh siswa, penggunakan bola sebagai media bantu dalam pembelajaran senam lantai gerakan guling depan diharapkan akan menimbulkan suasana yang menyenangkan dan mengurangi rasa takut untuk melakukan gerakan senam lantai gerakan guling depan. Penggunaan bola  dalam pembelajaran ketrampilan teknik senam lantai gerakan guling depan yaitu dengan meletakan bola di antara dua kaki, dan sebagai batas penempatan kepala bagian depan (dahi). Penempatan bola di antara dua kaki dengan tujuan memperlebar jarak kaki,  dan sebagai control pada saat melakukan berguling agar kedua kaki tetap dalam posisi sejajar, media bola sebagai  alat bantu tersebut juga dapat digunakan sebagai batas penempatan kepala bagian depan sehingga kepala tidak terlalu jauh dari kaki dengan demikian akan mempermudah pelaksanaan gerakan guling depan.
Tertarik dengan permasalahan di atas akan dikaji lewat Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “Peningkatan Keterampilan Teknik Dan Hasil Belajar Senam Lantai Gerakan Guling Depan Menggunakan Media Bola Pada Siswa Kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal”

A.    Identifikasi Masalah
Proses pembelajaran senam lantai pada siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub  mengalami berbagai permasalahan yang dapat di identifikasikan sebagai berikut:
1   .      Kurangnya motivasi siswa dalam melakukan senam lantai karena gerakan dalam  senam lantai sulit dilakukan dan dapat menimbulkan rasa sakit.
2   .      Siswa tidak memahami tujuan pembelajaran senam lantai gerakan guling depan.
3   .      Siswa tidak memahami manfaat mempelajari senam lantai gerakan guling depan.
4  .      Kedisiplinan siswa yang masih kurang dalam melakukan teknik dan gerakan guling depan sesuai yang diinstruksikan oleh guru.
5  .      Penerapan metode belajar dan media bantu pembelajaran yang tidak tepat dapat menimbulkan suasana belajar yang tidak menyenangkan.
6  .      Rendahnya kemampuan siswa dalam melakukan keterampilan teknik senam lantai gerakan guling depan.
7   .      Rendahnya hasil belajar  senam lantai gerakan guling depan pada siswa kelas VII.

B.     Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan agar penelitian menjadi lebih terfokus serta  efektif, maka pada penelitian ini akan dibatasi masalah-masalah yang terjadi pada pembelajaran senam lantai gerakan guling depan pada siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Tarub sebagai berikut:
1    .      Rendahnya kemampuan siswa dalam melakukan keterampilan teknik senam lantai gerakan guling depan.
2    .      Rendahnya hasil belajar senam lantai gerakan guling depan.
3   .      Penerapan metode belajar menggunakan media bola  dalam pembelajaran keterampilan teknik dan hasil belajar senam lantai gerakan guling depan.

C.     Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikaasi masalah dan pembatasa masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah yang dapat diteliti yaitu:
1   .   Apakah penggunaan media bola  dapat meningkatkan keterampilan teknik senam lantai gerakan   guling depan pada siswa kelas VII-A semester genap SMP Negeri 2 Tarub?
2  .      Apakah penggunaan media bola  dapat meningkatkan hasil belajar senam lantai gerakan guling      depan pada siswa  kelas VII-A semester genap SMP Negeri 2 Tarub?

D.    Tujuan Penelitian.
a.  Untuk mengetahui peningkatan keterampilan teknik senam lantai gerakan guling depan  menggunakan media bola pada siswa kelas VII-A semester genap  SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2015-2016.
b.      Meningkatkan hasil belajar senanm lantai gerakan guling depan mengguakan media bola pada siswa kelas VII-A semester genap SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2015-2016.

E.     Manfaat Penelitian
     Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi semua pihak yang terkait yaitu:
1.      Bagi siswa, dengan model dan penggunaan alat bantu pembelajaran lebih bervariasi, dan mereka dapat termotivasi untuk belajar dengan mudah, aman, dan dalam suasana yang menyenangkan.
2.      Bagi guru Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan, untuk meningkatkan kualitas mengajar dengan menerapkan metode mengajar yang bervariasi dan inovatif agar pembelajaran lebih bermakna dan berhasil secara optimal.
3.      Bagi sekolah, semoga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai perbendaharaan metode dan model pembelajaran.

     Demikian  PTK peningkatan Keterampilan Teknik Daan Hasil Belajar Senam Lantai Guling Depan Menggunakan Media Bola yang dapat admin share semoga bermanfaat. Jika ada kritik, saran dan pertanyaan silahkan tinggalkan jejak pada kolom komentar yang tersedia. 
     Terima Kasih 
     Wassalamualaikum Wr. Wb

Thursday, March 3, 2016

Sistematika Penelitian Tindakan Kelas



Assalamualaikum wr.wb, Salam sejahtera, Salam Olahraga

Selamat berjumpa lagi di Blog Guru Penjasorkes, semoga sobat blogger selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan dalam lindungan Allah SWT Tuhan sekalian alam. Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi pengetahuan tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sejak diberlakukannya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang jabatan guru dan angka kreditnya, salah satu unsur pengembangna profesi yang banyak dikeluhkan guru adalah penyusunan publikasi ilmiah, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya pengetahuan guru tentang pnyusunan karya tulis ilmiah, penguasaan teknologi informatika (IT) maupun faktor eksternal lainnya seperti budaya di lingkungan sekolah dan profesinya kurang mendukung. Tetapi dengan diterapkannya peraturan baru tentang jabatan guru dan angka kreditnya mau atau tidak mau, suka atau tidak suka guru harus melaksanakan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) kalau tidak jabatan dan pangkatnya akan stagnan.

Penelitian Tindakan Kelas Merupakan salah satu bentuk karya publikasi ilmiah yang sesuai dalam upaya memperbaiki mutu proses belajar mengajar karena dampaknya langsung dapat dirasakan oleh guru dan siswa, juga mempunyai nilai angka kredit besar yaitu 4 (empat) point. Setiap guru pada dasarnya ingin memperbaiki proses belajar mengajar pada kelas yang diampunya, namun tidak semua guru dapat menuangkan gagasan tersebut dalam suatu karya publikasi ilmiah secara baik dan benar, untuk itu perlu adanya suatu kaidah dalam menyusun usulan penelitian, melaksanakan dan menyusun laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) agar dapat diakui oleh tim penilai kenaikan pangkat pengembangan profesi.

Mengingat pentingnya fungsi Penelitian Tindakan Kelas dan peran PTK dalam peningkatan mutu dan kualitas prosese belajar mengajar serta syarat kenaikan jabatan dan pangkat admin akan berbagi tentang mekanisme penulisan atau Sistematika Penelitian Tindakan Kelas. Admin yakin banyak sobat Blog Guru Penjasorkes yang sudah paham dan mampu menyusun dan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas sekaligus sudah mendapat nilai angka kreditnya, tetapi tidak ada salahnya jika pada postingan ini menampilakan kembali Sitematika Penelitian Tindakan Kelas yang mungkin dibutuhkan oleh sobat yang akan melakukan Penelitian Tindakan Kelas. 

Mekanisme penulisan atau Sistematika Penelitian Tindakan Kelas yang admin ketahui berdasarkan diklat dan workshop tentang PTK ada bermacam-macam, tetapi pada dasarnya satu dengan lainnya sama. yaitu memuat bagian pembuka, bagian isi, kajian pustaka metode penelitian hasil penelitian dan pembahasan, simpulan dan saran, serta bagian penunjang. Untuk lebih jelasnya tentang Sistematika Penelitian Tindakan Kelas yang bersumber dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Tengah sebagai berikut:

SISTEMATIKA PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. BAGIAN PEMBUKA
     a. Halaman Judul
     b. Lembar Pengesahan
     c. Kata Pengantar
     d. Daftar Isi
     e. Daftar Tabel
     f. Daftar Gambar
     g. Daftar Lampiran
     h. Abstrak

B. BAGIAN ISI
     Bab I Pendahuluan
              a. Latar Belakang Masalah
              b. Identifikasi Masalah
              c. Pembatan Masalah
              d. Rumusan Masalah
              e.Ttujuan Penelitian
              f. Manfaat Penelitian
     Bab II Kajian Pustaka
              a. Kajian Teori
              b. Kajian Hasil Penelitian yang relevan (jika ada)
              c. Kerangka Berfikir
              d. Hipotesis Tindakan (tidak wajib)
     Bab III Metode Penelitian
              a. Objek Tindakan
              b. Setting/Lokasi/Subjek Penelitian
              c. Metode Pengumpulan Data
              d. Analisis Data
              f. Cara Pengambilan Simpulan (indikator keberhasilan penelitian)
     Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
              a. Gambaran Selintas Tentang Setting
              b. Uraian Penelitian Secara Umum/keseluruhan
              c. Penjelasan persiklus
              d. Proses Menganalisis Data
              e. Pembahasan dan Pengambilan Keputusan
     Bab V Simpulan dan Saran
              a. Simpulan
              b. Saran untuk Tindakan Tindak Lanjut

C. BAGIAN PENUNJANG
              a. Daftar Pustaka
              b. Lampiran-lampiran
                  RPP persiklus, daftar hadir, instrumen yang telah dinilai, hasil kerja siswa dan foto-foto kegiatan

Itulah Sistematika  Penelitian Tindakan Kelas yang bisa admin share semoga yang secuil ini dapat bermanfaat bagi sobat Blog Guru Penjasorkes dalam penyusunan Karya Publikasi Ilmiah khususnya penulisan atau Sistematika Penelitian Tindakan Kelas. Admin menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan  dalam tulisan ini untuk itu saran dan pendapat dari sobat blogger sangat dinantikan untuk peningkatan kualitas di Blog ini. Terima Kasih

Sumber: Workshop penulisan PTK LPMP Jateng
              Bimbingan penyusunan PTK dalam In House Trainning di SMPN 2 Tarub


 

Saturday, April 6, 2013

LEMBAR OBSERVASI DAN PENILAIAN KONDISI AWAL DAN SIKLUS 1 PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

Pada pertemuan atau artikel yang terdahulu telah saya share tentang cara penyusunan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Penjasorkes dari bab 1. Kalai ini akan saya lanjutkan dengan share contoh lembar observasi dan penilaian kondisi awal penelitian tindakan kelas. Pada posting ini lembar observasi diambil dari hasil penelitian saya yang berjudul peningkatan teknik dan hasil belajar senam lantai gerakan guling depan menggunakan bola sebagai alat bantu. Subyek penelitian adalah kelas VII - A SMP Negeri 2 Tarub Kabupaten Tegal semester genap tahun pelajaran 2012-2013. Bagi rekan guru penjasorkes yang akan mengadakan penelitian tindakan kelas, kiranya contoh lembar observasi dan penilaian kondisi awal penelitian tindakan kelas ini dapat dijadikan salah satu referensi. Saya menyadari bahwa tulisan ini mungkin jauh dari sempurna untuk itu kritik dan saran dari pembaca atauu rekan guru penjasorkes selalu saya harapkan. Semoga contoh lembar observasi dan penilaian kondisi awal penelitian tindakan kelas (PTK) ini ada manfaatnya. Untuk dapat melihat dan mendownload silahkan KLIK DI SINI

Thursday, February 14, 2013

PTK Penjasorkes

Sejalan dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2008 tentang guru terutama pada Bab II Kompetensi dan Sertifikasi pada pasal 2 bahwa Guru wajib memiliki Kualifikasi Akademik, Kompetensi, Sertifikat Pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Di samping peraturan pemerintah tersebut, guru yang merupakan jabatan fungsional disyaratkan mengajukan Penilaian Angka Kredit (PAK). Angka Kredit Guru diajukan sebagai salah satu syarat untuk kenaikan pangkat atau golongan. Hal ini di atur dalam Permenpan No 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya. Penilaian angka kredit guru terdiri dari beberapa unsur yaitu unsur utama dan unsur penunjang. Saya tidak akan membahas tentang unsur utama tetapi lebih pada unsur penunjang khususnya pada poin ke 3 yaitu Pengembangan Profesi terutama membuat karya tulis ilmiah (KTI) dibidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya.

Karya tulis ilmiah yang dimaksud adalah berupa laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dikelasnya. KTI sebagai salah satu unsur penunjang dari pengajuan angka kredit merupakan suatu keharusan pada tiap jenjang golongan mulai dari golongan IIIa dan selanjutnya, walaupun PTK tidak menjadi kewajiban dari setiap jenjang golongan tetapi PTK merupakan karya tulis yang memiliki penilaian paling tinggi dibandingkan dengan KTI lainnya. nilai/point yang kita dapatkan dengan membuat PTK adalah empat point, bandingkan dengan KTI yang hanya dihargai satu point. Jadi dengan membuat satu PTK kita tidak perlu membuat karya tulis ilmiah yang lain karena nilainya telah tercukupi.

PTK mempunyai nilai/point tinggi untuk angka kredit saya pikir wajar karena penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki tingkat kesukaran yang tinggi, membutuhkan biaya dan waktu yang relatif lama jika dibandingkan dengan KTI lainnya. Secara garis besar  urutan langkah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat diuraikan sebagai berikut:
- Mengidentifikasikan permasalah pembelajaran yang ada di kelas
- Mencari solusi dari permasalan yang ada di kelas tersebut (bisa dibarengi dengan Judul PTK)
- Melakukan tindakan dengan menggunakan solusi pembelajaran yang telah ditetapkan
- Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan
- Menarik kesimpulan dari tindakan yang telah dilakukan dalam proses belajar dikelas tersebut
 Langkah-langkah di atas dijabarkan mulai dari bab I sampai bab V (untuk lengkapnya silahkan lihat posting sebelumnya dengan judul penyusunan penelitian tindakan kelas).

Bagi Rekan blogger dan guru penjasorkes yang akan membuat atau menyusun Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mapel penjasorkes di bawah ini saya sampikan contoh-contoh Judul PTK Penjasorkes. Mudah-mudahan dapat menjadi gambaran dan perbendaharaan dalam menyusun PTK Penjasorkes. Mari kita tingkatkan kualitas belajar penjasorkes dengan melakukan penelitian tindakan kelas. Terakhir saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam postingan ini, kritik dan saran dapat disampaikan melalui link komentar di bawah. Terimakasih

Contoh Judul PTK Penjasorkes KLIK DI SINI



Friday, February 8, 2013

Hakikat Pendidikan Jasmani

Hakikat Pendidikan jasmani menurut Para ahli: Pendidikan Jasmanani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktifitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, maupun emosional. Pendidikan Jasmani memerlukan anak sebagai kesatuan yang utuh, mahluk total, dari pada menganggapnya sebagai seorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya. Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif dan afektif setiap siswa. Pengalaman yang disajikan akan membantu siswa untuk memahami mengapa manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisien, dan efektif. (Kurikulum Penjas SMP, 2004). Dari banyak pendapat tentang pengertian pendidikan jasmani, dapat disimpulkan pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik diarahkan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emosional dalam kerangka sistem pendidikan nasional. (Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi SMP, 2004). untuk lebih jelasnya tentang hakikat pendidikan jasmani silahkan KLIK DI SINI Semoga bermanfaat.

Sunday, January 20, 2013

Cara Menyusun Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Kenaikan pangkat dan jabatan dalam suatu pekerjaan menjadi dambaan semua orang, tidak terkecuali guru. Peraturan Menteri Negara Pendayaguanaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi nomor 16 Tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, memuat perubahan yang mendasar berkaitan dengan tata cara penilaian angka kredit guru. sebelum Permen no 16 tahun 2009 ini berlaku seorang guru dapat mengajukan penilaian angka kredit dalam waktu minimal empat semester atau dua tahun sekali dan syarat-syarat yang relatif gampang, tetapi setelah berlakunya Peraturan tersebut di atas banyak kalangan yang mengatakan sangat berat untuk melakukan pengajuan penilaian angka kredit dan kenaikan pangkat bagi guru, hal ini didasarkan pada ketentuan yang mensyaratkan adanya karya tulis ilmiah, baik yang berupa makalah maupun penelitian tindakan kelas (PTK).

Guru sebagai pendidik di sekolah mempunyai tugas pokok yang berat seperti mendidik, melatih, mengajar sekaligus melakukan perencanaannya. Sekarang harus ditambah dengan melakukan penelitia tindakan kelas ini menjadikan tugas guru semakin berat, namun apapun tugas yang diembang seorang guru harus siap menghadapi dan melaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Pada posting kali ini penulis mencoba menshare cara menyusun penelitian tindakan kelas (PTK). penulisan ini tidak bermaksud menggurui rekan-rekan guru tetapi semata-mata ingin berbagi pengalaman tentang cara menyusun penelitian tindakan kelas (PTK. Bagi rekan guru yang sudah mahir menulis penelitian tindakan kelas penulis mohon kritik, dan saran yang membangun, dan bagi rekan-rekan yang masih bingung menyusun penulisan penelitian tindakan kelas (PTK) mari kita sama-sama belajar agar tugas dan kewajiban yang kita embang tidak menjadi beban. Okey sudah terlalu banyak yang penulis omongkan, jadi langsung saja kita ke permasalahan yaitu bagaimana cara menyusun penelitian tinadkan kelas (PTK)?  

Lankah-langkah Menyusun Penelitian Tindakan Kelas:

Langkah pertama adalah membuat judul. Judul dalam penelitian tindakan kelas sekurang-kurangnya memuat dua variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). variabel bebas biasanya berupa cara, metode, media/alat bantu yang akan digunakan dalam pembelajaran yang berdampak bagi peningkatan hasil. Variabel terikat berupa kompetensi dasar, subkompetensi dasar dari mata pelajaran yang akan diteliti dan ditingkatkan hasilnya. Setelah membuat judul dilanjutkan dengan menulis bab 1. Penulisa bab 1 harus berdasarkan urutan yang benar dan sistematik seperti di bawah ini:  

A. Latar Belakang

Dalam menulis latar belakang sekurang-kurangnya terdiri dari:
- Menulis pembelajaran yang ideal
- Menulis kenyataan yang ada (kondisi awal)
- Kenyataan yang ditulis perlu didukung oleh fakta/data
- Masalah pokok: mengandung kondisi awal dari subyek yang diteliti
- Masalah lain: mengandung kondisi awal dari peneliti
- Solusi pemecahan/penyelesaian dan langkah-langkahnya (secara garis besar)  

B. Identifikasi Masalah

Mengidentifikasikan masalah-masalah yang timbul dalam pembelajaran, yang menyebabkan kualitas, prestasi, maupun hasil belajar masih rendah. Faktor-faktor yang menjadikan kualitas dan hasil belajar rendah bisa dilihat dari siswa, metode belajar, model belajar, atau juga dari guru sendiri. Setelah tahu faktor penyebab selanjutkan mencari cara untuk mengatasinya. Lebih jelasnya dalam mengidentifikasikan masalah dapat disusun sebagai berikut:
- mengapa variabel terikat (Y) rendah?
- mengapa variabel terikat (Y) perlu ditingkatkan?
 - faktor-faktor apa yang menyebabkan Y rendah?
- bagaimana caranya agar Y meningkat?
- apa yang harus dilakukan guru agar Y dapat meningkat dan seterusnya.  

C. Pembatasan Masalah

Langkah awal untuk pembatasan masalah dengan melihat identifikasi masalah kemudian mencari masalah yang paling penting dan urgen untuk diselesaikan. pembatasan masalah bertujuan agar penelitian lebih terfokus. Pembatasan masalah bisa dimulai dengan membatasi atau menjelaskan variabel terikat misalnya: materi apa, siswa mana, kelaas berapa, semester kapan, tahun kapan, d an seterusnya. dilanjutkna dengan membatasi atau menjelaskan variabel bebas seperti: metode apa, alat peraga apa, kapan tindakan itu dilakukan.  

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah memuat hal-hal sebagai berikut:
- dikebangkan dari identifikasi masalah dan pembatasan masalah
- umumnya berbentuk kalimat tanya
- kalimat tanya pada rumusan maslah lebih terinci karena telaj melalui identifikasi masalah dan pembatasan masalah.
 - kalimat tanya yang diajukan mengacu ke variabel pada maslah pokok (Y) dan variabel pada masalah lain (X) - kalimat tanya pada rumusan masalah harus dijawab
- sebagia dasar untuk penentuan teori yang akan digunakan
- sebagia arah dalam menentukan judul penenlitain
- sebagia arah dalam menentukan metode penelitian
- sebagai arah dalam menentkan jenis penelitian.
Contoh:
Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: - Apakah melalui X dapat meningkatkan Y bagi...?  

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dibagi menjadi 2 yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
- tujuan umum untuk meningkatkan Y secara umum (belum menyebutkan kelas berapa dan waktunya)
- tujuan khusus. sudah menyebut secara rinci: siswa, kelas, sekolah, dan tahun.  

F. Manfaat Penelitian

 Manfaat penelitian juga terdiri dari 2 yaitu:
- manfaat teoritis, untuk mendapatkan pengetahuan atau teori baru dan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya.
- manfaat praktis, bagi siswa, bagi guru,bagi sekolah dan seterusnya.
 Sekian dulu cara menyusun penelitian tindakan kelas (PTK) yang bisa penulis sampaikan untuk BAB II dan selanjutnya Insya Allah akan dishare lain waktu. semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Jika ada kritik, dan saran silahkan tulis pada kolom komentar di bawah ini. Terima kasih

Sumber: In House Traning Bimbingan dan Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas SMP Negeri 2 Tarub tanggal 3 Januari 2013